4 Pilar Pendidikan di Era Generasi Cemas

Umsida.ac.id – Pendidikan anak tidak hanya berlangsung di ruang kelas. 

Keluarga, sekolah atau kampus, lingkungan masyarakat, hingga media digital ikut membentuk cara anak tumbuh, belajar, dan menghadapi kehidupan. 

Hal tersebut disampaikan Prof Dr H Biyanto MAg saat menghadiri Wisuda ke-48 Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Umsida) pada Sabtu, (24/10).

Lihat juga: Dirjen Kemdiktisaintek: Ijazah Itu Surat Tugas!

Dalam kesempatan tersebut, Prof Biyanto menyampaikan pesan kepada para wisudawan mengenai pentingnya memperhatikan lingkungan yang lebih luas.

Empat Pilar Pendidikan Anak

Prof Biyanto mengatakan bahwa ada empat pilar penting yang menentukan kualitas pendidikan anak, yakni keluarga, sekolah atau kampus, lingkungan masyarakat, dan media.

Keluarga menjadi tempat pertama anak mendapatkan pendidikan. 

Orang tua memiliki peran penting dalam membentuk kebiasaan dan karakter anak sejak berada di rumah.

“Kalau ditanya siapa guru terbaik ketika anak-anak kita berada di rumah, guru terbaiknya adalah kedua orang tuanya, ayah dan bundanya,” tutur Prof Biyanto.

Ia juga menyinggung hasil survei Komisi Perlindungan Anak Indonesia yang menunjukkan baru 23 persen orang tua yang memiliki keterampilan dan kemampuan dalam mendidik serta mengasuh anak. 

“Kondisi tersebut menjadi pekerjaan bersama agar kesadaran mengenai pentingnya pengasuhan dan pendidikan dalam keluarga semakin kuat,” tegasnya.

Pilar kedua adalah lembaga pendidikan.

Menurutnya, perguruan tinggi tidak hanya memberikan pengetahuan, tetapi juga membentuk bekal yang dibutuhkan mahasiswa untuk menjalani kehidupan setelah lulus.

Lingkungan Membentuk Cara Anak Tumbuh

Pilar berikutnya adalah lingkungan masyarakat. 

Prof Biyanto mengingatkan bahwa anak juga tumbuh melalui interaksi dengan lingkungan dan teman sebaya.

“Ada konsep peer education, yaitu pendidikan yang juga dipengaruhi teman. Jadi anak-anak kita akan lebih mendengar pikiran-pikiran teman sebayanya daripada pikiran orang tuanya atau gurunya,” jelasnya.

Karena itu, imbuh Prof Biyanto, memilih dan memastikan lingkungan yang baik menjadi bagian dari tanggung jawab bersama.

Menurutnya, lingkungan yang sehat dapat mendukung tumbuh kembang anak sekaligus kesejahteraannya, baik pada masa kini maupun masa mendatang.

Tantangan Generasi Cemas di Era Digital

4 pilar pendidikan (7)

Selain keluarga, sekolah, dan lingkungan, Prof Biyanto mengamati media digital sebagai pilar keempat yang mempengaruhi kehidupan generasi saat ini.

Ia menyampaikan bahwa rata-rata masyarakat Indonesia menghabiskan sekitar tujuh hingga delapan jam waktu di depan layar.

“Kecanduan media digital itu bisa membuat anak kehilangan kesempatan untuk bermain di lingkungan nyata dan melakukan aktivitas fisik. Dampaknya dapat berkaitan dengan kesehatan mental maupun fisik,” terangnya.

Ia mengaitkan kondisi tersebut dengan gagasan dalam buku The Anxious Generation yang menggambarkan munculnya generasi yang rentan mengalami kecemasan akibat perubahan pola kehidupan anak yang semakin bergantung pada perangkat digital.

“Generasi cemas itu mengingatkan para generasi sekarang berprinsip no gadget no life yang membuat mereka kehilangan kesempatan untuk bermain di alam nyata,” jelasnya.

Kondisi tersebut, lanjutnya, juga dapat berdampak pada kesehatan fisik, mulai dari obesitas hingga gangguan pada mata dan telinga. 

Ia turut menyebut data WHO yang menurutnya menunjukkan bahwa satu dari tujuh anak mengalami gangguan mental.

Bukan Sekadar Menjejalkan Pengetahuan

Di tengah berbagai tantangan tersebut, Prof Biyanto mengingatkan bahwa pendidikan seharusnya tidak berhenti pada menjejalkan pengetahuan.

“Tapi bagaimana menyalakan api supaya anak-anak itu punya gairah, punya semangat untuk belajar, rasa ingin tahunya tinggi, curiosity sangat tinggi,” ujarnya.

Pesan tersebut ia kaitkan dengan para wisudawan Umsida yang telah menyelesaikan proses studi.

Setelah resmi lulus, mereka akan kembali ke keluarga dan masyarakat dengan membawa bekal ilmu serta pengalaman yang diperoleh selama berada di kampus.

Prof Biyanto berpesan agar wisudawan menjaga integritas.

Ia mengingatkan agar perjalanan setelah wisuda tidak dicederai oleh tindakan yang dapat merusak masa depan.

“Mohon jangan kotori CV dengan masalah karena judi online, narkoba, perzinahan, dan perbuatan-perbuatan yang merusak yang lain,” tegasnya.

Lihat juga: Wisudawan Terbaik Umsida Ungkap Kunci Raih IPK Tinggi

Menurutnya, ilmu yang diperoleh selama pendidikan perlu berjalan bersama karakter dan tanggung jawab dalam kehidupan masyarakat.

“Karena itu kita jaga sebaik-baiknya integritas kita dan dengan identitas itu Insyaallah kita akan menjadi manusia yang dimuliakan oleh Allah dengan iman dan ilmu kita,” pungkasnya.(Dhona)