Baru Mau Membaca Sastra Jerman? Ini Cara Memulainya!

SIDOARJO — Membaca karya sastra dari negara lain bisa menjadi cara sederhana untuk menambah wawasan dan mengenal sudut pandang baru. Salah satunya adalah Sastra Jerman. Bagi pemula, mengenal bidang ini mungkin terasa membingungkan. Padahal, pembaca dapat memulainya dari cerita yang menarik tanpa harus langsung memahami teori sastra atau menguasai bahasa Jerman.

Gambar 1 Buku Jerman
Sumber : Nathan Franklin – unsplash

Baca Juga : Dari Cerita ke Budaya: Yuk, Mengenal Sastra Jerman Lebih Dekat!

Pilih Bacaan yang Sesuai dengan Minat

Langkah pertama adalah memilih bacaan berdasarkan hal yang disukai. Pembaca yang tertarik pada keluarga, persahabatan, kehidupan sehari-hari, atau pengalaman manusia dapat mencari karya dengan tema serupa. Salah satu contohnya adalah Der liebe Augustin karya Horst Wolfram Geißler, yang mengisahkan perjalanan hidup Augustin Sumser dalam menghadapi berbagai pengalaman, mulai dari percintaan hingga kehilangan. Kisahnya menggambarkan bagaimana seseorang menjalani perubahan dan kesulitan hidup sambil berusaha mempertahankan optimisme.

Gambar 2 Buku Der liebe Augustin – Horst Wolfram Geissler
Sumber : Fang-Wei Lin – unsplash

Cerita pendek dan dongeng juga bisa menjadi pilihan awal karena relatif mudah diikuti. Sebelum membaca, pembaca dapat melihat judul, nama penulis, jenis karya, dan sinopsis untuk memperoleh gambaran tentang cerita tersebut.

Tidak ada satu jenis buku yang harus dibaca oleh semua pemula. Pilihlah bacaan yang terasa menarik dan nyaman agar kegiatan membaca menjadi pengalaman yang menyenangkan.

Memahami Cerita Sebelum Mencari Maknanya

Saat mulai membaca, cobalah mengenali tokoh utama, latar tempat, peristiwa penting, dan masalah yang dihadapi tokoh. Setelah memahami jalan ceritanya, pembaca dapat mulai memikirkan tema atau pesan yang disampaikan penulis.

Misalnya, apakah cerita tersebut membahas hubungan antarmanusia, kehidupan sosial, atau pengalaman seseorang dalam menghadapi perubahan? Setiap pembaca bisa memiliki pemahaman berbeda berdasarkan pengalaman dan sudut pandangnya. Karena itu, tidak perlu terburu-buru memahami semua makna dalam sebuah karya.

Buku Terjemahan Membuka Akses terhadap Sastra Jerman

Perbedaan bahasa tidak harus menjadi penghalang untuk menikmati karya sastra. Buku terjemahan bahasa Indonesia dapat membantu pembaca memahami cerita tanpa perlu menguasai bahasa Jerman terlebih dahulu. Salah satu contohnya adalah Momo karya Michael Ende, yang diterjemahkan ke bahasa Indonesia oleh Hendarto Setiadi. Novel fantasi ini mengisahkan seorang anak bernama Momo yang berusaha melawan pencuri waktu dan mengingatkan pembaca tentang pentingnya waktu, persahabatan, serta kebersamaan.

Gambar 3 Contoh Buku Momo – Michael Ende – Hendarto Setiadi
Sumber : Gramedia Pustaka Utama

Selain itu, salah satu contoh yang dapat dikenalkan adalah karya Franz Kafka yang berjudul Vor dem Gesetz diterjemahkan ke dalam bahasa Gayo menjadi I Arapni Hukum oleh penerjemah Salman Yoga S. dari Takengon. Contoh ini menunjukkan bagaimana penerjemahan dapat memperkenalkan karya sastra kepada masyarakat dengan latar belakang bahasa yang berbeda.

Meskipun demikian, terjemahan dan teks asli tidak selalu memberikan pengalaman membaca yang sama. Bagi yang tertarik belajar bahasa Jerman, membandingkan kosakata atau bagian tertentu dari kedua versi dapat menjadi langkah belajar tambahan.

Perpustakaan sebagai Teman Menemukan Bacaan

Perpustakaan dapat membantu pembaca menemukan buku berdasarkan tema, nama penulis, atau jenis karya yang diminati. Melalui koleksi dan konten literasi yang disampaikan dengan bahasa sederhana, perpustakaan juga dapat memperkenalkan bidang yang sebelumnya terasa asing.

Gambar 4 Perpustakaan Lantai 3 UMSIDA
Sumber : Dokumentasi Perpustakaan

Mengenal Sastra Jerman tidak harus dimulai dari buku yang tebal atau cerita yang rumit. Satu bacaan yang menarik bisa menjadi langkah awal untuk memahami karya sastra sekaligus mengenal bahasa dan budaya baru. Apakah kalian tertarik membaca novel atau buku sastra Jerman jika tersedia dalam bahasa yang mudah dipahami, seperti bahasa Indonesia? (Octavia)

Baca Juga : Kenalan dengan Goethe dan Kafka, Dua Nama Besar dalam Sastra Jerman