Umsida.ac.id – Menggelar Program Diaspora Berdampak, Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (FST Umsida) menghadirkan Associate Professor Ir Dr Ali Sophian CEng dari Kulliyyah of Engineering, International Islamic University Malaysia (IIUM).
Program tersebut menjadi ruang bagi dosen dan mahasiswa dalam hal penyusunan proposal penelitian internasional dan memperluas jejaring internasional.
Lihat juga: FKKG Umsida Jalin Kerja Sama Internasional, Siap Lakukan Joint Research
Rangkaian kegiatan berlangsung dalam lima agenda berbeda pada 16, 23, 26, 27, dan 28 Oktober 2026.
Kegiatan dibuka pada 16 Oktober dengan seminar penulisan jurnal, dilanjutkan materi dan pendampingan proposal penelitian internasional pada 23, 26, dan 27 Oktober, kemudian ditutup pada 28 Oktober.
Wakil Rektor III Umsida, Dr Nurdyansyah SPd MPd, menekankan bahwa Program Diaspora Berdampak tidak berhenti pada kegiatan seminar.
“Sesuai namanya Program Diaspora Berdampak, fokus utama kita adalah memastikan wawasan yang dipelajari memberikan implikasi konkret. Jangan sampai kegiatan ini selesai saat acara berakhir,” tuturnya.
Selain meningkatkan kapasitas riset, interaksi dengan akademisi dari luar negeri juga menjadi kesempatan bagi mahasiswa untuk mengenal cara berpikir dan standar akademik dalam lingkungan internasional.
Berlatih Menyusun Proposal Riset Internasional

Penerima hibah Program Diaspora Berdampak, Dr Ir Jamaaluddin MM, menjelaskan pentingnya membangun kemampuan riset dengan standar yang lebih tinggi ketika ingin mencapai target internasional.
“Kalau ingin bertarget bisa go international, biasanya latihannya di standar internasional. Jadi kalau misalnya target saya angkat delapan nilainya, maka saya harus melakukan sesuatu di angka sepuluh,” ujarnya.
Dalam rangkaian kegiatan tersebut, peserta tidak hanya menerima materi, tetapi juga berlatih menyusun proposal penelitian internasional. Proposal yang telah dibuat, dapat di review oleh Prof Ali untuk mengetahui bagian yang masih perlu diperbaiki.
“Bapak dan Ibu dosen juga nanti bisa mengambil ilmu tentang bagaimana kita membuat proposal penelitian internasional yang baik,” jelas Jamaaluddin.
Pendampingan tersebut, menurutnya, menjadi bagian penting dalam proses pembelajaran karena peserta dapat mengetahui kekurangan proposal yang telah disusun sebelum mengembangkannya lebih lanjut.
Kenali TRL hingga Peluang Hibah Riset Global

Dalam pemaparannya, Associate Professor Ali membahas Technology Readiness Levels (TRL) 1–9 yang mengacu pada ISO 16290/NASA.
Peserta diarahkan untuk menentukan batas kesiapterapan awal atau Baseline TRL dan target akhir atau Target TRL secara terukur, mulai dari tahap teori dan laboratorium hingga hilirisasi industri.
Selain TRL, peserta juga mendapatkan gambaran mengenai sejumlah skema pendanaan global. Materi mencakup skema bilateral, konsorsium Horizon Europe, kemitraan pembangunan berkelanjutan seperti JICA dan USAID, hingga dana kawasan ASEAN Science Technology and Innovation Fund (ASTIF) 2026.
Dalam proses penyusunan proposal, peserta juga diperkenalkan pada aspek yang menjadi perhatian reviewer internasional, mulai dari urgensi topik, kebaruan metode, hingga pembagian tugas dalam tim.
Lihat juga: Rangkaian Kolaborasi Umsida-EAGI Buka Pengalaman Akademik Global
Prof Ali berharap peserta memahami materi yang telah diberikan dengan lebih baik.
“Semoga semakin memahami tahapan penyusunan proposal penelitian sehingga dapat menerapkan pengetahuan yang diperoleh secara tepat,” terangnya.(Anifa/Amel)


