Umsida Perkuat Disability Awareness untuk Wujudkan Kampus Inklusif

Umsida.ac.id – Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Umsida) menggelar workshop Disability Awareness Bagi Generasi Muda. 

Kegiatan tersebut digelar pada Kamis, (17/9), di Aula Mas Mansyur Kampus 1 Umsida dan diikuti sekitar 200 mahasiswa.

Lihat juga: Langkah Awal Pembentukan Unit Layanan Disabilitas, Umsida Benchmarking ke UB

Pelatihan ini merupakan ikhtiar Umsida dalam mewujudkan lingkungan pendidikan yang inklusif dan menumbuhkan disability awareness.

Sebelumnya, Umsida juga melakukan kunjungan ke Universitas Brawijaya untuk mempelajari berbagai aspek pengembangan layanan disabilitas dan pendidikan inklusif.

Bangun Disability Awareness

Hadir sebagai pemateri, Khairun Nastain SPd dari Rumah Layanan Disabilitas UB menjelaskan bahwa disability awareness penting dimiliki karena setiap orang memiliki kemungkinan mengalami kondisi disabilitas.

“Pertama, itu karena penyandang disabilitas dilindungi undang-undang. Kedua, semuanya berpotensi menjadi disabilitas. Kalau tidak sekarang, ya mungkin nanti,” jelasnya.

Menurut Nastain, kondisi tersebut dapat terjadi karena berbagai situasi. 

Seiring bertambahnya usia, seseorang dapat mengalami penurunan pendengaran maupun penglihatan. 

Kondisi kesehatan tertentu juga dapat menyebabkan seseorang mengalami disabilitas.

Selain itu, kondisi geografis Indonesia yang berada di jalur Ring of Fire dan memiliki risiko bencana turut menjadi salah satu alasan pentingnya membangun lingkungan yang inklusif.

Karena itu, menurutnya, lingkungan inklusif tidak hanya dibutuhkan untuk mahasiswa yang saat ini merupakan penyandang disabilitas, tetapi juga untuk seluruh masyarakat.

Mengubah Paradigma terhadap Disabilitas

Bangun Disability Awareness

Nastain juga mengajak mahasiswa untuk mengubah cara pandang terhadap penyandang disabilitas. 

Ia menjelaskan bahwa masih terdapat paradigma lama yang melihat disabilitas dari sisi keagamaan, rasa kasihan, moral, medis, hingga kondisi ekonomi.

Salah satu contohnya adalah religious model, ketika kondisi disabilitas dikaitkan dengan persoalan keagamaan atau dianggap sebagai akibat dari kesalahan tertentu. 

Ada pula charity model yang melihat penyandang disabilitas semata-mata dari sisi rasa kasihan.

“Kita harus bisa berubah paradigma kita. Menganggap aneh, tidak normal, dan lainnya, itu harud diubah,” terangnya.

Membangun Pendidikan Tinggi yang Inklusif

Dalam perguruan tinggi, Nastain memberi beberapa hal yang perlu diperhatikan untuk membangun lingkungan pendidikan yang inklusif. 

“Yang pertama, kampus bisa menguatkan kebijakan yang mendukung disabilitas,” tutur Nastain.

Kedua, selanjutnya, membentuk Unit Layanan Disabilitas (ULD) beserta layanan yang memadai.

Yang ketiga, kampus tetap menerima mahasiswa disabilitas. 

“Jadi, diberikan akses juga untuk masuk ke universitas, untuk menikmati pekerjaan. Terus menyediakan infrastruktur, fisik dan non-fisik,” tuturnya.

Yang dimaksud infrastruktur fisik seperti guiding block, bidang miring, lift, atau fasilitas-fasilitas publik yang aksesibel. 

Sedangkan yang non fisik bisa berupa aplikasi akademik yang aksesibel, bisa dibaca siapapun.

Dan terakhir, memberikan pelatihan kepada sivitas akademika tentang disability awareness.

Keberlanjutan ULD

Bangun Disability Awareness 1_11zon

Saat ini, Umsida telah membentuk Unit Layanan Disabilitas sebagai bagian dari komitmen tersebut. 

Direktur Direktorat Akademik Umsida, Cholifah SST MKes, mengatakan bahwa unit ini menjadi ruang koordinasi sekaligus layanan bagi mahasiswa disabilitas.

“Teman-teman disabilitas itu bukan suatu hal yang abnormal, tetapi mungkin perbedaan fungsi saja dengan teman-teman semua dalam mencapai sebuah kegiatan,” ujarnya.

Cholifah menegaskan bahwa Umsida melanjutkan berbagai pelatihan dan menyiapkan shadow atau pendamping bagi mahasiswa yang mengalami kondisi disabilitas.

Lihat juga: Umsida Latih Guru PAUD Terapkan Coding dalam Pembelajaran

“Kegiatan ini sebagai pembuka ke depan kegiatan kita yang akan kita lanjutkan dalam menumbuhkan disability awareness,” tutur Cholifah.

Ia juga mengajak komunitas Silam.id (Sisi Lain Mahasiswa Asosiasi Disabilitas), yang selama ini menjadi salah satu penggerak kegiatan inklusif di Umsida, untuk turut menyosialisasikan keberadaan Unit Layanan Disabilitas kepada mahasiswa.(Dhona)