Umsida.ac.id – Mahasiswa KKN P 16 Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Umsida) mengenalkan bank sampah sederhana berbahan galon bekas serta alat pengepres botol plastik kepada warga Desa Lebakrejo, Kecamatan Purwodadi, Kabupaten Pasuruan pada Rabu, (26/8).
Program ini digelar guna mengajak warga mulai memilah sampah dari rumah masing-masing.
Selain menjaga kebersihan lingkungan, sampah seperti botol plastik yang terkumpul juga masih memiliki nilai jual sehingga bisa dimanfaatkan kembali oleh warga.
Lihat juga: KKN P 31 Olah Sampah Organik dan Tingkatan Resapan Air Lewat Biopori
Kenalkan Bank Sampah Sederhana dari Galon Bekas

Tim KKN memberikan materi mengenai bank sampah disampaikan oleh Moch Mirza Afila Akbar, mahasiswa KKN P 16 Umsida.
Dalam kesempatan tersebut, warga diajak memahami pentingnya memisahkan sampah sejak dari rumah sebelum dibuang.
“Bank sampah ini untuk memudahkan kita memilah sampah dari rumah. Sampah yang masih bisa dijual dikumpulkan, jadi lingkungan lebih bersih dan sampahnya juga bisa menghasilkan,” jelas Mirza.
Bank sampah tersebut dibuat menggunakan galon bekas yang sudah tidak terpakai.
Galon tersebut difungsikan sebagai wadah pengumpul sampah yang telah dipilah, sehingga warga tidak perlu membeli tempat khusus untuk memulai kebiasaan memilah sampah.
Perkenalkan Alat Pengepres Botol

Selain bank sampah, mahasiswa KKN P 16 Umsida juga memperkenalkan alat pengepres botol plastik yang disampaikan oleh Jesika Kustianti.
Alat ini dirancang untuk membantu warga mengecilkan ukuran botol plastik yang telah dikumpulkan agar lebih mudah disimpan.
“Alat ini untuk mengepres botol supaya lebih kecil dan tidak makan tempat. Jadi botol yang sudah dikumpulkan lebih mudah disimpan dan nanti bisa disetorkan,” tutur Jesika.
Warga diperlihatkan cara kerja alat tersebut secara langsung, mulai dari memasukkan botol hingga proses pengepresan yang membuat botol menjadi lebih ringkas.
Cara penggunaannya yang sederhana membuat warga dapat mencobanya sendiri tanpa kesulitan.
Sesi praktik menjadi bagian yang paling menarik perhatian warga.
Setelah melihat demonstrasi, warga bergantian mencoba alat pengepres botol dan melihat langsung perbedaan ukuran botol sebelum dan sesudah dipres.
Salah satu warga, Lusy, mengaku selama ini botol bekas di rumahnya langsung dibuang begitu saja.
“Biasanya botol ya langsung dibuang. Ternyata kalau dikumpulkan bisa dijual juga. Kalau dipres begini jadi lebih rapi dan tidak memenuhi tempat,” katanya.
Warga lain, Ibu Lailatul, menilai penggunaan galon bekas sebagai wadah bank sampah cukup mudah diterapkan di rumah masing-masing.
“Kalau seperti ini kan gampang, galon bekas di rumah juga ada. Bisa dipakai untuk mengumpulkan botol atau sampah yang masih bisa dijual,” ujarnya.
Keberlanjutan Program Kerja
Ketua Tim KKN P 16 Umsida, Muhammad Alkindi, menyampaikan bahwa gagasan program ini berawal dari kebiasaan sehari-hari yang sederhana, yaitu sampah rumah tangga yang masih sering tercampur.
“Kadang kita sendiri kalau di rumah masih langsung membuang sampah jadi satu. Padahal sebenarnya botol atau kardus masih bisa dikumpulkan. Jadi kami mencoba membuat bank sampah yang sederhana supaya warga lebih mudah untuk mulai memilah,” ujarnya.
Ia berharap bank sampah dan alat pengepres botol yang telah diperkenalkan tidak berhenti dimanfaatkan setelah masa KKN berakhir.
Lihat juga: 2 Tim KKN Umsida Buat Alat Pembakar Sampah Minim Asap
Keberlanjutan program ini bergantung pada kebiasaan warga menjaga rutinitas memilah sampah dari rumah serta memanfaatkan fasilitas yang telah dibuat.
“Kami sudah memberikan gambaran sederhana tentang cara memilah dan mengolah sampah dari rumah. Semoga kebiasaan itu membuat lingkungan rumah lebih tertata sekaligus memberi warga pengetahuan yang dapat diterapkan secara mandiri,’’ tuturnya.(Syafiq)


