Perubahan Iklim Jadi Tantangan Ketahanan Pangan, Pakar Umsida Beri Solusi

Umsida.ac.idUpaya pemerintah menjaga ketahanan pangan nasional terus dilakukan melalui berbagai kebijakan, salah satunya percepatan penyaluran bahan pangan untuk memastikan kebutuhan masyarakat tetap terpenuhi yang telah dilakukan Kemenko Pangan sejak Juli lalu.

Namun, di tengah perubahan iklim yang semakin sulit diprediksi, tantangan pangan Indonesia tidak hanya berkaitan dengan distribusi, tetapi juga keberlanjutan produksi pertanian. 

Lihat juga: Pelatihan Tanaman Semusim Jadi Cara Dosen Umsida Perkuat Ketahanan Pangan

Dosen Program Studi Agroteknologi Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Umsida), Intan Rohma Nurmalasari SP MP, berpendapat bahwa diperlukan transformasi pertanian yang lebih adaptif untuk menghadapi ancaman tersebut.

Menurutnya, kondisi ketahanan pangan Indonesia saat ini masih cukup baik, tetapi tidak boleh membuat masyarakat merasa aman. 

“Indonesia memiliki sumber daya pertanian yang besar, petani berpengalaman, serta komoditas pangan yang beragam,” terang Intan.

Kondisi Lingkungan Harus Stabil

Menurutnya, tanaman membutuhkan kondisi lingkungan yang sesuai agar dapat tumbuh dan menghasilkan secara optimal. 

“Perubahan iklim bukan hanya persoalan cuaca, tetapi sudah menjadi persoalan produksi dan ketahanan pangan,” ungkap Ketua Pusat Studi SDGs Umsida itu.

Ia menjelaskan bahwa beberapa komoditas pangan memiliki tingkat kerentanan yang cukup tinggi terhadap perubahan iklim. 

Padi menjadi salah satu komoditas yang rentan karena sangat bergantung pada ketersediaan air dan waktu tanam yang tepat.

Selain padi, jagung dan berbagai komoditas hortikultura juga menghadapi risiko akibat perubahan suhu serta pola curah hujan ekstrem. 

Hortikultura bahkan bisa sangat sensitif karena perubahan sedikit saja pada suhu, kelembaban, atau ketersediaan air dapat mempengaruhi pertumbuhan dan kualitas hasil.

Perubahan Iklim Pengaruhi Ketahanan Pangan
ketahanan pangan
Ilustrasi: Pexels

Menurut Intan, tantangan tersebar saat ini adalah produksi pangan di Indonesia yang masih sangat dipengaruhi oleh kondisi alam, sementara iklim sekarang semakin sulit diprediksi. 

“Jadi persoalannya bukan hanya apakah pangan tersedia, tetapi juga apakah produksinya bisa stabil, terjangkau, berkualitas, dan berkelanjutan,” terangnya.

Kalau masyarakat terlalu bergantung pada beberapa komoditas dan wilayah produksi tertentu, ketika terjadi gangguan iklim, dampaknya bisa langsung terasa pada pasokan dan harga pangan.

“Ketika produksi turun, pasokan berkurang dan harga bisa naik. Kalau kondisi ini terjadi berulang, tentu akan menjadi persoalan yang lebih besar, terutama bagi masyarakat dengan daya beli rendah,” terang Intan.

Selain itu, ada resiko lain seperti degradasi lahan disebabkan alih fungsi lahan, berkurangnya ketersediaan air, meningkatnya serangan hama dan penyakit, serta semakin beratnya beban petani. 

Dalam jangka panjang, kalau tidak diantisipasi, perubahan iklim bisa membuat biaya produksi semakin tinggi sementara hasil yang diperoleh tidak selalu meningkat. 

Dibutuhkan Pertanian yang Adaptif

Menghadapi kondisi tersebut, menurut Intan, sistem pertanian konvensional tetap memiliki peran, tetapi tidak cukup jika hanya mengandalkan cara lama. 

Pertanian Indonesia perlu bergerak menuju sistem yang lebih adaptif dengan memanfaatkan inovasi dan teknologi.

Salah satu konsep yang disarankan Intan  adalah pertanian cerdas iklim atau climate-smart agriculture. 

Konsep ini tidak hanya mengejar produksi tinggi, tetapi juga bagaimana pertanian mampu beradaptasi terhadap perubahan iklim sekaligus mengurangi dampak terhadap lingkungan

Lalu ada pertanian presisi, penggunaan sensor dan teknologi digital untuk memantau kondisi tanah dan tanaman, irigasi hemat air, penggunaan varietas adaptif, sampai pemanfaatan bahan organik dan biochar untuk memperbaiki kualitas tanah.

Beberapa langkah yang juga dapat dilakukan antara lain penggunaan varietas tanaman yang tahan terhadap kekeringan maupun genangan, pengelolaan air yang lebih efisien, pemanfaatan pupuk organik, diversifikasi tanaman, hingga penggunaan teknologi untuk memantau kondisi tanah dan tanaman.

“Jadi arahnya bukan menggantikan petani dengan teknologi, tetapi bagaimana teknologi membantu petani mengambil keputusan yang lebih tepat. Petani teat menjadi aktor utama, teknologi menjadi alat untuk memperkuatnya,” tuturnya.

Menurutnya, pertanian Indonesia ke depan perlu bergerak ke arah “lebih pintar, lebih hemat sumber daya, tetapi tetap berpihak kepada petani.” 

“Modernisasi pertanian jangan hanya dimaknai dengan penggunaan mesin atau teknologi canggih,” tuturnya.

Lihat juga: Wujudkan Ketahanan Pangan, Dosen Umsida Dampingi SMKN 1 Jabon

Yang lebih penting adalah bagaimana teknologi tersebut benar-benar membantu petani meningkatkan produktivitas, mengurangi risiko, dan menjaga lahannya tetap produktif dalam jangka panjang.(Dhona)

Sumber: Intan Rohma Nurmalasari SP MP