Umsida.ac.id – Keputusan untuk merantau ribuan kilometer dari rumah bukan perkara sederhana.
Apalagi ketika tujuan pendidikan berada di lingkungan yang berbeda dengan kehidupan yang selama ini dijalani keluarga.
Lihat juga: Wisudawan Terbaik Umsida Ungkap Kunci Raih IPK Tinggi dan Prestasi
Itulah yang dialami Katarina Sarabiti Teluma, wisudawan asal Larantuka, Flores, Nusa Tenggara Timur yang lulus dari Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Umsida) pada Ahad, (25/10).
Ia tumbuh dalam keluarga Katolik yang taat, lalu memilih melanjutkan pendidikan di Umsida, sebuah perguruan tinggi Muhammadiyah yang berada di tengah lingkungan mayoritas Muslim.
Katarina hanya berniat untuk mencari kampus untuk melanjutkan studi pendidikan tinggi.
Namun bagi keluarganya, terutama sang kakak yang merupakan seorang biarawati, keputusan itu sempat menghadirkan kekhawatiran sekaligus pertanyaan: apakah Katarina bisa diterima dan menjalani pendidikan dengan nyaman di sana?
Kini, setelah menyelesaikan pendidikan di Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris (PBI), kekhawatiran tersebut justru berubah menjadi rasa syukur.
Takut Membaur Hingga Cetak Prestasi

Awalnya Katarina takut tidak bisa mendapatkan teman dan bahkan khawatir dengan persoalan bahasa karena sama sekali belum bisa berbahasa Jawa.
“Ekspektasinya itu sebelumnya takut pilih lingkungannya baru, terus takut bahasa Jawa juga. Soalnya saya belum bisa bahasa Jawa sama sekali,” ungkapnya.
Namun teman-temannya menerima Katarina dengan baik dan membantunya ketika mengalami kesulitan.
Pengalaman tersebut membuatnya merasa tidak sendirian meski berada jauh dari rumah.
Selama kuliah, Katarina tidak hanya fokus menyelesaikan perkuliahan. Ia juga mengembangkan kegemarannya bernyanyi melalui UKM Paduan Suara Nusantara (PSN).
Bahkan dari UKM itu, katarina menyabet berbagai prestasi nasional dan internasional.
“Prestasi ini adalah hasil dari usaha saya yang jauh-jauh dari Flores, agar ketika pulang ada kenangan yang membekas,” tuturnya.
Tumbuh di Keluarga Katolik yang Taat

Bagi keluarga Katarina, keputusan tersebut tentu membutuhkan pertimbangan.
Suster Maria Aurelia PRR, kakak Katarina yang merupakan seorang biarawati Katolik, mengatakan keluarga sempat mempertanyakan apakah adiknya dapat memperoleh kesempatan belajar di kampus dengan latar belakang keyakinan yang berbeda.
“Memang kami, khususnya sebagai orang tua, kami bertanya-tanya, apakah bisa diberikan kesempatan untuk masuk di universitas yang pada umumnya kita beda keyakinan,” tutur Suster Maria.
Kekhawatiran juga muncul karena Katarina harus tinggal jauh dari rumah.
Sebagai seorang perempuan yang merantau ke daerah yang belum dikenalnya, keluarga tentu ingin memastikan ia tetap aman dan dapat menjalani kehidupan perkuliahan dengan baik.
Namun, keinginan Katarina untuk melanjutkan pendidikan membuat keluarga memilih memberikan dukungan.
“Untuk pendidikan itu tidak membeda-bedakan agama dan keyakinan, yang penting hanya ada kemauan dan keinginan, dan kami sangat mendukungnya dengan berdoa,” kata Suster Maria.
Kini setelah empat tahun, Suster Maria melihat perjalanan tersebut sebagai bukti bahwa Katarina mampu menghadapi berbagai tantangan selama berada jauh dari rumah.
“Dalam perjalanan ada kesulitan yang dia temukan, tapi dia tetap membuka hati dan berani untuk bertanya, sehingga setiap kesulitan yang ditemukan itu ada jalan keluarnya bagi dia,” ujarnya.
Kini, ia tidak lagi berbicara tentang kekhawatiran ketika Katarina memilih Umsida.
Lihat juga: Dari Flores, Pengalaman Wisudawan Katolik Tuntaskan Kuliah dengan Beasiswa Penuh di Umsida
Yang tersisa adalah rasa terima kasih karena putrinya telah diberikan ruang untuk belajar dan berkembang.
“Terima kasih banyak untuk keluarga besar Umsida yang telah memberikan waktu, ruang, dan kesempatan untuk adik kami boleh mengenyam pendidikan di tempat ini,” pungkas Suster Maria.(Dhona)


