Wisudawan Umsida Temukan Jalan Prestasi dari Riset, Kompetisi, dan Keberanian

Umsida.ac.id – Prestasi di bangku kuliah tidak selalu berawal dari target besar. 

Bagi Miftakh Ainul Yakin dan Rusydiana Nurul Aini, kesempatan yang datang selama menjadi mahasiswa justru membawa mereka pada pengalaman yang tidak pernah dibayangkan sebelumnya.

Lihat juga: Tim Jenggolo Umsida Siap Bawa Arshaka V2 ke KMHE 2026

Keduanya didapuk sebagai wisudawan berprestasi Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Umsida) tahun akademik 2026-2027 pada Ahad, (25/10).

Miftakh meraih Juara 1 Rancang Bangun Capstone Desain (RBCD), sedangkan Rusydiana meraih Juara 1 kategori Best Paper dalam International Conference on Emerging New Media and Social Sciences 2025.

Aktif Berkolaborasi dengan Dosen

wisudawan berprestasi umsida (2)

Miftakh mengaku tidak memiliki rencana khusus untuk mengejar prestasi ketika pertama kali masuk Umsida.

Ia justru mulai mengenal dunia kompetisi setelah mendapat ajakan dari dosen saat masih berada di semester awal dengan niat untuk mencari pengalaman.

“Sebenarnya suka sekali, cuma memang karena keterbatasannya waktu saya. Saya dulu awal kuliah itu nggak ada niatan sama sekali untuk ikut prestasi-prestasi apa, lomba-lomba gitu,” ungkapnya.

Kesempatan pertama datang pada 2023 ketika Miftakh masih semester 3. 

Ia diajak mengikuti kompetisi rancang bangun capstone desain yang mempertemukan mahasiswa teknik mesin dari berbagai perguruan tinggi.

Proposal pertamanya belum berhasil. Namun, ia kembali mencoba ketika kompetisi serupa digelar oleh Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan Aisyiyah (PTMA). 

Dari proses tersebut, Miftakh akhirnya berhasil meraih juara.

Pengalaman itu berlanjut pada 2024. Bersama seorang teman dari Program Studi Informatika, ia mengikuti Program Pembinaan Mahasiswa Wirausaha (P2MW) hingga berhasil menembus KMI Expo.

Dalam program tersebut, timnya mengembangkan Tucuma Store, yakni mesin pemotong keripik ubi. 

“Kan orang-orang kebanyakan potong pakai tangan, kita coba riset buat mesinnya agar tangannya juga safety, kemudian efisiensi energi,” jelas Miftakh.

Sebelum menjadi mahasiswa Umsida, Miftakh memang telah memiliki pengalaman berprestasi. Ia pernah meraih juara dua LKS Jawa Timur saat masih bersekolah di SMK dan kemudian masuk Umsida melalui jalur prestasi.

Meski demikian, perjalanan mengikuti berbagai kegiatan tidak selalu mudah.

“Kalau kita males ya kan udah berpikir itu nggak jernih, terus nggak bisa cari inovasi, nggak bisa riset. Jadi kalau kita udah males ya udah, mood-nya turun, semuanya selesai,” ujarnya.

Peran Pihak Prodi untuk Mencetak Prestasi

wisudawan berprestasi umsida (2)

Cerita berbeda datang dari Rusydiana Nurul Aini. 

Prestasi yang diraihnya berawal dari program di Program Studi Administrasi Publik yang dikembangkan menjadi karya untuk skripsinya.

Rusydiana meraih Juara 1 kategori Best Paper dalam International Conference on Emerging New Media and Social Sciences 2025 melalui karya tentang inovasi sistem keuangan desa dan pengelolaan dana desa sebagai pendukung penerapan good governance di Desa Kalisampurno, Tanggulangin.

Topik tersebut dipilih karena dekat dengan kehidupan Rusydiana. 

Ia meneliti desanya sendiri sehingga ia dapat mengembangkan desa sekaligus menyelesaikan tugas akhirnya.

Prosesnya pun tidak selalu berjalan santai. 

Di tengah berbagai kesibukannya, Rusydiana tetap menjaga perkuliahan dan target akademiknya.

Ia mengaku tidak terlalu banyak menghabiskan waktu untuk kegiatan di luar kebutuhan kuliah karena sudah memiliki jadwal belajar sendiri.

Rusydiana membagi target pengerjaan secara bertahap. Misalnya, satu hari digunakan untuk menyelesaikan bab tertentu, kemudian dilanjutkan dengan bagian berikutnya pada hari yang telah ditentukan.

Lihat juga: Umsida Peringkat 37 AppliedEdu Private University Ranking ASEAN 2027

Kebiasaan tersebut membuat proses penyelesaian studi tetap berjalan sesuai rencana.

“Jangan lupa rajin bimbingan saja. Terus juga, kalau misalnya dosennya susah dikejar, itu dikejar terus aja, jangan menyerah,” pesannya.(Dhona)